Tulisan 4



Tulisan 4
Sepatu Kulit
1EB20
Dwi Pratiwi-22213689
I.           Pendahuluan
Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), Industri Alas Kaki, serta Industri Kulit dan Barang Jadi Kulit merupakan komoditi andalan industri karena sektor ini mampu menyerap banyak tenaga kerja, memenuhi kebutuhan sandang dalam negeri, dan menjadi penyumbang devisa ekspor non migas yang cukup signifikan. Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian dalam sambutannya yang dibacakan Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Panggah Susanto saat membuka pameran Gelar Sepatu, Kulit dan Fashion Tahun 2013 di Jakarta Convention Center (JCC).
Bisnis fashion memang takkan pernah ada matinya. Beragam model muncul tiap tahunnya yang membuat pangsa pasar selalu bergairah, termasuk juga model-model untuk alas kaki (sepatu dan sandal). Di Indonesia, ada ratusan industri menengah dan pengerajin kecil yang merintis usaha produksi sepatu dan sandal. Untuk bisa bertahan dalam persaingan bisnis ini, beberapa pengusaha menggunakan strategi diferensiasi dan eksklusivitas produk, sehingga tidak tergeser oleh produk-produk sepatu dan sandal dari pengusaha kakap ataupun ditikung oleh produk import yang bermerek. Oleh karena itu Industri sepatu kulit ini terus berusaha mengembangkan dan meningkatkan daya saing produksi sehingga dapat meningkatkan penjualan dan mendapatkan tempat berharga di dalam persaingan pasar.
II.        Isi
Kerajinan Sepatu Kulit di Indonesia
Kerajinan sepatu kulit sudah menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian orang yang sudah menekuni kerajinan ini di sentra-sentra kerajinan kulit yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Ada yang sudah menekuni bisnis kerajinan kulit ini selama bertahun-tahun dan bahkan ada yang sudah turun temurun dari keluarganya dulu sampai dengan sekarang.  Kini sudah ada beberapa kerajinan sepatu kulit yang menyebar di beberapa daerah di Indonesia. Sentra kerajinan kulit di Jawa Barat terkenal dengan kerajinan kulit Cibaduyut yang setiap bulannya memproduksi produk sepatu kulit dalam jumlah besar dan didistribusikan ke daerah-daerah lain baik di pulau Jawa maupun di luar pulau Jawa. Kerajinan kulit Garut juga terkenal dengan peternakan domba dan kambingnya yang tentunya akan menghasilkan sumber bahan kulit kambing yang melimpah. Sedangkan untuk daerah Jawa Tengah, sentra kerajinan kulitnya terletak di daerah desa Masin Kabupaten Batang. Untuk Jawa Timur, sentra kerajinan kulit terletak di Desa Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Yogyakarta juga pastinya tidak mau ketinggalan dengan mengandalkan desa wisata kerajinan kulit Manding, Kabupaten Bantul
Lemahnya Industri Sepatu Kulit
Bagi industri alas kaki yang berusaha bertahan hidup di negara ini kini mulai resah. Para buruh industri menuntut kenaikan upah minimum yang secara otomatis meningkat biaya produksi bagi investor di industri ini. Sementara rata-rata 35% dari biaya produksi untuk industri alas kaki ini terdapat pada upah tenaga kerjanya. Jika biaya produksinya meningkat, maka harga produk sepatu atau sandal yang mereka buat pun akan menjadi mahal. Begitu juga dengan aturan larangan impor bahan baku kulit pada 1998, para pemasok kulit mengeluh mengalami kekurangan bahan baku setiap tahun. Dan sejalan dengan perkembangan perekonomian global, masuk nya produk alas kaki yang masuk ke Indonesia makin menggeser produk alas kaki lokal. Banyak alasan penyebab penurunan dalam industri ini, diantaranya adalah :
-      Tidak tersedianya bahan baku sehingga harus mengimpor bahan baku.
-      Desain yang tidak lagi modis di pasaran.
-      Dan perilaku konsumen Indonesia yang lebih cinta produk alas kaki branded (bermerek) yang kebanyakan buatan asing.
Penyebab melemahnya industri ini membuat industri alas kaki Indonesia pernah sedikit mengalami masa tenggelam. Belum lagi masalah banyaknya kebutuhan bahan baku yang tak bisa dipenuhi produksi dalam negeri, harus tersedia dengan mimpor bahan baku.
Industri Sepatu Kulit Tingkatkan Daya Saing
Melihat keadaan seperti itu, industri alas kaki Indonesia pun mulai memutar otak, industri ini pun mulai bekerja dengan pihak industri sepatu luar negeri dalam produksinya, seperti Adidas dan DNB dari Jerman membuat kontrak produksi dengan industri sepatu lokal di Jombang. Hal lainya yang dilakukan dalam rangka meningkatkan produksi industri persepatuan (sepatu kulit) di Indo-nesia, dalam hal mutu dan desain, harga jual, menurunkan biaya produksi, pengetahuan teknik produksi dan manajemen, saat ini sedang dibangun Indonesian Footwear Service Center (IFSC) di Sidoarjo Jawa Timur.
IFSC yang mulai dioperasikan tahun 2003 dan  pendiriannya didukung kerjasama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Italia ini, kelak akan berfungsi sebagai pu-sat pendidikan dan pelatihan, pusat informasi sosialisasi informasi pasar, teknologi, per-saingan usaha dan lain-lain, pusat penelitian, pengembangan dan inovasi di bidang industri persepatuan serta penyediaan pelayanan konsultasi dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh industri persepatuan (sepatu kulit) di Indonesia. Pertimbangan kerjasama di bidang persepatuan dan kulit  ini  didasari atas  kondisi bahwa Italia merupakan salah satu negara produsen (sejak 1950-an) sepatu dan kulit terbe-sar di dunia, disamping termaju dalam pembuatan mesin penyamak kulit, dan mampu men-suplai dua pertiga kebutuhan mesin penyamak kulit dunia.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) didukung Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI), dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) turut menyelenggarakan pameran. Kegiatan pameran ini diselenggarakan untuk mempromosikan dan menginformasikan kemampuan industri dalam negeri, terutama produk alas kaki, kulit, produk dari kulit lainnya, dan produk pakaian jadi. Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto saat membacakan sambutan Menperin Mohamad S Hidayat mengatakan, kini industri tekstil, barang dari kulit, serta alas kaki berkontribusi sebesar 2,1 persen terhadap PDB.
Dan kini Industri alas kaki mengalami peningkatan, Indonesia selama ini mampu memenuhi sekitar 1,8 persen kebutuhan dunia akan produk Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dan Alas Kaki. Kedua sektor industri ini juga mampu menyerap banyak tenaga kerja sebanyak 1,5 juta orang di industri TPT dan 700 ribu orang di industri alas kaki dan penyamakan kulit. Di samping itu, tahun 2012, nilai impor produk TPT sebesar US$ 8,14 miliar mengalami penurunan 3 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai US$ 8,4 miliar. Sedangkan pada industri alas kaki, nilai impor sebesar US$ 387 juta mengalami kenaikan 8,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 357 juta.
Industri TPT dan Alas Kaki nasional ditantang untuk dapat terus meningkatkan daya saing dan mengoptimalkan eksistensinya di pasar gobal. Pemerintah terus mempertahankan keberadaan dan mendukung pengembangan potensi industri TPT dan industri Alas Kaki nasional, antara lain melalui:
1.    Fasilitasi pemberian insentif fiskal yang diharapkan dapat menarik investasi di sektor TPT danAlas Kaki nasional, baik investasi baru yang dapat memperkuat intergrasi struktur industri TPT dan Industri Alas Kaki nasional, maupun investasi dalam bentuk teknologi baru yang membuat produksi lebih efisien dalam penggunaan energi dan ramah lingkungan.
2.  Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan Industri TPT, merupakan program dengan tujuan untuk meremajakan mesin/peralatan industri TPT yang sebagian besar telah berusia di atas 20 tahun. Untuk industri TPT program ini telah dilaksanakan sejak tahun 2007 dan tahun 2009 untuk industri Alas Kaki dan Penyamakan Kulit. Dengan adanya peremajaan mesin/peralatan diharapkan tercapai peningkatkan teknologi, efisiensi dan produktivitas industri tersebut yang pada gilirannya meningkatkan daya saing industri nasional.
      Berdasarkan hasil evaluasi tahun 2007-2012, program ini mampu menstimulus kegiatan investasi mesin/peralatan yang dilakukan oleh dunia usaha sebesar Rp. 10,17 Trilyun dengan kenaikan produktifitas sebesar rata-rata 6-10 persen, efisiensi energi sebesar 5 – 9 persen serta mampu menyerap tenaga kerja sebesar 92.000 orang untuk Industri TPT dan 102.000 orang untuk industri alas kaki. Melihat hasil evaluasi tersebut maka pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menetapkan untuk tetap melanjutkan program dimaksud pada tahun anggaran 2013 ini dengan memberikan potongan harga sampai dengan 10 persen bagi pembelian mesin untuk perluasan dan investasi baru.
3.  Upaya peningkatan kemampuan SDM Industri TPT dan Alas Kaki melalui pelatihan  untuk menugurangi tingkat pengangguran.
4.   Program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) untuk mengupayakan agar masyarakat lebih menyukai produk dalam negeri daripada produk luar negeri.
5. Peningkatan upaya pengendalian impor dan pengamanan pasar dalam negeri melalui kebijakan non-tariff measures guna mencegah terjadinya unfair trade yang merugikan industri dalam negeri.
6.  Optimalisasi pemanfaatan pasar serta mencari pasar tujuan ekspor baru dengan cara mendorong kerjasama perdagangan dengan negara-negara pasar ekspor industri TPT dan Alas Kaki nasional seperti negara-negara di Kawasan Eropa baik dengan negara-negara yang tergabung dalam EFTA maupun Uni Eropa.
Peluang Sepatu Kulit di Eropa
Di Uni Eropa saat ini sejumlah produsen sepatu kulit dan fashion di Spanyol, Italia, dan Portugal, banyak yang tutup karena upah pekerja yang terus meningkat. Hal itu menjadi peluang bagi Indonesia untuk meraih pasar sepatu fashion di Uni Eropa yang total konsumsi pada 2005 berdasarkan sata Eurostat mencapai sekitar 2,35 miliar pasang sepatu. Saat ini pesaing utama Indonesia yaitu China dan Vietnam terkena peraturan anti dumping sepatu dari Uni Eropa yang berlaku dua tahun sejak Oktober 2006. Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jawa Timur (Jatim) mengharapkan ekspor sepatunon-sport atau sepatukulit dan fashion tumbuh lebih pesat dibandingkan ekspor sepatuolahraga (sport) yang selama ini mendominasi sekitar 70 ekspor sepatuIndonesia. Untuk itu, pemerintah perlu memberi dukungan dengan melarang ekspor kulit mentah dari Indonesia atau meningkatan pajak ekspor (PE) kulit mentah, sehingga diolah di dalam negeri untuk menjadi bahan baku kulit sepatu.
Keputusan komisi uni eropa untuk mengenakan kebijakan anti dumping terhadap produk sepatu Cina dan Vietnam april 2006, peluang kepada industri sepatu nasional untuk menggenjot ekspor ke pasar Eropa semakin terbuka. Nilai ekspor sepatu dua negara itu ke pasar uni eropa tahun 2005 mencapai sekitar us$ 7 miliar, masing-masing us$ 2 miliar dari Vietnam dan us$ 5 miliar dari Cina yang dinilai terlalu banyak sehingga perlu dibatasi dengan target penurunan 20% dibandingkan dengan tahun lalu. Berkurangnya ekspor sepatu dari China dan Vietnam ke Eropa membuat perhatian masyarakat Eropa beralih ke sepatu diluar kedua negara termasuk ke sepatu asal Indonesia. Pameran sepatu Indonesia di Prancis dan Belanda banyak dikunjungi masyarakat setempat.
Koordinasi Sumber-Sumber Ekonomi Sepatu Kulit
          Industri sepatu kulit ini melaksanakan sumber-sumber ekonomi, ini berarti bahwa industri ini berusaha memakai semua sumber-sumber ekonomi dengan jalan mengkombinasikan sedemikian rupa sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan sumbangan dalam proses produksi maupun distribusi barang atau jasa guna memenuhi kebutuhan masyarakat atau mencari keuntungan.
          Kalau perusahaan berusaha untuk mengkombinasikan berbagai sumber-sumber ekonomi agar terbentuknya produk berkualitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun mancari laba, maka perusahaan ini dipandang sebagai suatu sistem, karena dalam sistem tersebut dapat dijalankan secara lebih terperinci lagi dalam aspek penting yang berhubungan dengan industri ataupun yang tidak secara langsung berhubungan dengan industri ini.
III.     Penutup
Industri sepatu kulit meskipun lemah karena tidak tersedianya bahan baku, namun industri ini mengalami beberapa peningkatan. Para industri ini memutar otak demi peningkatan penjualan demi tidak musnahnya industri sepatu kulit ini. Dikarenakan memiliki kerja sama dengan negara lain, produk Indonesia ini mulai mengembangkan industri mereka hingga industri ini mempunyai prospek yang cerah dalam berbisnis.
IV.       Daftar Pustaka
-      http://kemenperin.go.id/artikel/594/Pembangunan-Sentra-Industri-Persepatuan-DI-Sidoarjo,-Jawa-Timur
-    http://www.gatra.com/ekonomi-1/31583-kemenperin-gelar-pameran-sepatu,-kulit-dan-fashion.html
-      http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2013/02/13/nafas-senin-kamis-industri-alas-kaki-indonesia-528095.html
-      Widyatmini. 1996. Pengantar Bisnis. Edisi pertama cetakan kelima. Penerbit Gunadarma
Previous
Next Post »

Silahkan berkomentar yang baik
*Link aktif tidak akan di publish komentarnya ConversionConversion EmoticonEmoticon