Tulisan 3
Kelapa Sawit Indonesia
1EB20
Dwi Pratiwi-22213689
Kelapa Sawit Indonesia
1EB20
Dwi Pratiwi-22213689
I. Pendahuluan
Dalam perekonomian Indonesia sektor pertanian berperan penting sebagai sumber utama pangan. Pengelolaan pertanian yang baik akan memberikan peningkatan pendapatan nasional, memakmurkan kesejahteraan masyarakat, pengetasan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja dan penerimaan ekspor serta berperan sebagai produsen bahan baku untuk nilai tambah di sektor industri dan jasa. Salah satu dari sektor pertanian adalah kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan subsektor pertanian yang memberi manfaat penambahan pendapatan petani dan masyarakat. Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannyamenghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesiapenyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.
Pengembangan agribisnis kelapa sawit merupakan salah satu langkah yang sangat diperlukan sebagai kegiatan pembangunan subsektor perkebunan dalam rangka revitalisasi sektor pertanian. Perkembangan pada berbagai subsistem yang sangat pesat pada agribisnis kelapa sawit sejak menjelang akhir tahun 1970-an menjadi bukti pesatnya perkembangan agribisnis kelapa sawit. Bersamaan dengan itu, harga minyak mentah dunia (CPO) pun cenderung membaik. Kondisi ini tentu saja akan menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya di sektor perkebunan sawit ini.
II. Isi
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah salah satu komoditi perkebunan yang paling diminati di Indonesia. Selain prospek pasarnya yang bagus, tanaman ini juga menjamin kontinuitas produksi setiap waktunya. Tanaman kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati yang saat ini banyak digunakan di seluruh dunia. Produksi minyak kelapa sawit terus meningkat setiap tahunnya bahkan menurut data Oli World pada tahun 1998, produksi minyak sawit dunia menduduki posisi kedua terbanyak setelah minyak kedelai. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produktivitas kelapa sawit, diantaranya yaitu :
- Jenis atau varietas tanaman
- Iklim
- Jenis tanah
- Topografi
- Teknik budidaya
- Perawatan
Namun sacara umum, faktor yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman kelapa sawit adalah tindakan kultur teknis. Contoh faktor kultur teknis yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman antara lain :
- Pembibitan
- Pembukaan lahan
- Peremajaan
- Pembangunan penutup lahan
- Penanaman
- Penyisipan kelapa sawit
- Pemeliharaan tanaman yang belum menghasilkan
- Pemeliharaan tanaman menghasilkan
- Pemupukan
- Pemanenan
- Pengangkutan
- Pengolahan
*Manfaat Kelapa Sawit Bagi Perekonomian Indonesia
Dalam perekonomian Indonesia, kelapa sawit (dalam hal ini minyaknya) mempunyai peran yang cukup strategis, karena :
1. Minyak sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng, sehingga pasokan yang kontinyu ikut menjaga kestabilan harga dari minyak goreng tersebut. Ini penting sebab minyak goreng merupakan salah satu dari 9 bahan pokok kebutuhan masyarakat sehinga harganya harus terjangkau oleh seluruh lapisan masarakat.
2. Sebagai salah satu komoditas pertanian andalan ekspor non migas, komoditi ini mempunyai prospek yang baik sebagai sumber dalam perolehan devisa maupun pajak.
3. Dalam proses produksi maupun pengolahan juga mampu menciptakan kesempatan kerja dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
4. Perkebunan dan industri pengolahan kelapa sawit tersebut memicu pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru
*Pola Pemasaran Produk Kelapa Sawit
Adapun Pola pemasaran produk kelapa sawit di Indonesia adalah :
1. Pola pemasaran perkebunan rakyat
Kegiatan pemasaran pada tingkat perkebunan rakyat ini dipengaruhi oleh keterbatasan lahan petani yang berkisar antara 1-10 hektar. Produksi yang terbatas menyebabkan penjualannya sulit dilakukan apabila langsung menjual ke processor/industri pengolah. Oleh karena itu, para petani harus menjual TBS melalui pedagang tingkat desa yang dekat dengan lokasi kebun atau melalui koperasi (KUD) kemudian berlanjut ke pedagang besar hingga ke processor/industri pengolah.
2. Pola pemasaran perkebunan besar negara dan swasta
Pemasaran produk kelapa sawit dalam bentuk olahan minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) pada perkebunan besar negara dilakukan secara bersama melalui Kantor Pemasaran Bersama (KPB). Sedangkan untuk perkebunan besar swasta, pemasaran produk kelapa sawit dilakukan oleh masing-masing perusahaan. Penjualan langsung kepada eksportir ataupun industri dalam negeri.
Meski tak masuk dalam daftar Environmental Goods List (EG List) dalam forum kerjasama Asia Pasifik Oktober lalu, kelapa sawit dan produk turunanya minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) masih memiliki harapan menjadi ekspor unggulan. Sebagaimana diketahui CPO menjadi komoditas unggulan subsektor perkebunan, di samping karet, coklat, dan kopi. Tiga pasar CPO terbesar yakni India, China, dan Uni Eropa dengan Belanda sebagai konsumen terbesar di UE. Sepanjang 2012, produksi CPO Indonesia mencapai lebih dari 25 juta ton, dan diprediksi mengalami peningkatan 4 juta ton tahun ini. Menurut catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), dalam periode Januari-Agustus 2013 tercatat ekspor CPO sebanyak 13,69 juta ton, atau mengalami kenaikan 18,6 persen dibanding periode sama 2012 yang sebesar 11,54 juta ton.
Bahkan Indonesia berpeluang besar mengisi kebutuhan pasar minyak kelapa sawit Nigeria. Negara Afrika dengan populasi 167 juta jiwa itu baru memproduksi sekitar 400.000 ton minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dari kebutuhan dua juta ton per tahun. Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Derom Bangun kembali mengikuti kunjungan kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memanfaatkan kunjungan tersebut untuk bertemu sejumlah pengusaha dan peneliti di Nigeria dan Pantai Gading. Dari hasil pertemuan, dia mendapatkan informasi kebutuhan pasar Nigeria. Saat ini bea masuk CPO di Nigeria 35 persen. Volume produksi yang terus meningkat, membuat Indonesia harus mengembangkan tujuan pasar ekspor dari selama ini sebagian besar ke India, China, dan Eropa.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menargetkan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bisa meningkat dua kali lipat di tahun 2014, dengan cara yang ditempuh yaitu melalui dengan meningkatkan kerja sama dengan negara Pakistan atau negara-negara di sekitarnya. Optimisme tersebut akan bisa diraih dengan menjalin kesepakatan perdagangan atau yang disebut Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Pakistan. Melalui perjanjian kerjasama ini, diharapkan ekspor khususnya komoditas minyak kelapa sawit mentah (CPO) bisa tumbuh tinggi. Dalam catatan Kementerian Perdagangan, ekspor CPO beserta turunnya dari Indonesia ke Pakistan pada tahun 2012 mencapai 714 juta dollar AS. Dengan kesepakatan perjanjian ini, ekspor CPO di tahun 2013 tersebut akan bertambah 200-300 juta dollar AS lagi, sehingga di tahun depan, kami harapkan ekspor CPO ke sana bisa mencapai 1,5 miliar dollar AS.
*Prospek Masa Depan Kelapa Sawit
Prospek Permintaan Minyak Sawit Dunia
Peningkatanya dikarenakan :
- Konsumsi dunia diperkirakan meningkat lebih dari 30 persen pada dasawarsa mendatang. Menjelang 2020, konsumsi dunia dan produksi minyak sawit diperkirakan sudah meningkat menjadi hampir 60 juta ton.
- Keunggulan biaya produksi dalam budidaya kelapa sawit. Biaya minyak sawit lebih unggul karena harga lahan yang rendah serta masukan energi yang rendah.
- Banyak negara maju mengurangi dan melarang lemak-trans sehingga banyak pabrik mengganti lemak-trans dengan minyak sawit.
- Dan selain peningkatan total dalam keseluruhan konsumsi, konsumsi minyak sawit perkapita pun terus meningkat di beberapa negara maju besar akibat pertumbuhan pendapatan.
Produksi dan Peluang Minyak Sawit Dunia
FAPRI memperkirakan produksi minyak sawit Malaysia akan meningkat 26,5 persen menjadi 23,4 juta ton sebelum 2020, lebih sedikit daripada perkiraan produksi Indonesia sebesar 28,5 juta ton. Prospek yang baik tentang permintaan minyak sawit dapat memacu investasi industri di negara lain, termasuk Nigeria dan Thailand yang masing-masing menghasilkan sekitar 1,3 juta ton pada 2008.
Sumber ekonomi
1. Sumber ekonomi alam (material dan bahan baku)
2. Sumber ekonomi manusia (tenaga kerja)
3. Sumber ekonomi modal (dana, mesin dan gedung)
4. Sumber ekonomi manajerial (keahlian mengelola)
5. Sumber ekonomi lingkungan (sosial dan budaya)
Sumber ekonomi tersebut di dalam sebuah sektor pertanian akan diproses menjadi barang atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam rangka proses pemuasan kebutuhan masyarakat inilah maka dalam mengekspor kelapa sawit (minyak sawit) mengharapkan adanya keuntungan yang akan diperoleh sebagai imbalan atas pelayanan yang diberikan. Dengan demikian bisa diharapkan kalau semakin baik pelayanan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dan selera maka akan semakin besar laba yang mungkin dapat dinikmati.III. Penutup
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor perkebunan dan pengolahan minyak sawit memegang peran kunci bagi ekonomi Indonesia. Produksi kelapa sawit yang dapat menjanjikan keuntungan bagi Indonesia sehingga menciptakan prospek peluang permintaan bagi Indonesia dalam meningkatkan devisa bagi Indonesia sekaligus membantu pendapatan masyarakat petani.IV. Daftar Pustaka
http://worldgrowth.org/site/wp-content/uploads/2012/06/WG_Indonesian_Palm_Oil_Benefits_Bahasa_Report-2_11.pdf
- http://www.anneahira.com/sawit.htm
- http://berrydhiya.blogspot.com/2012/06/pemasaran-cpo.html
- Widyatmini. 1996. Pengantar Bisnis. Edisi pertama cetakan kelima. Penerbit Gunadarma
Sign up here with your email

Silahkan berkomentar yang baik
*Link aktif tidak akan di publish komentarnya ConversionConversion EmoticonEmoticon